Daftar Bulan Jawa Islam – Kalender Jawa Islam Lengkap
Eksplorasi mendalam sistem penanggalan, filosofi waktu, dan harmoni budaya dalam Kalender Jawa.
Sebuah kalender jawa memiliki keistimewaan yang tidak ditemukan pada sistem penanggalan lain di dunia. Ia bukan sekadar alat penunjuk waktu, melainkan representasi kosmologi masyarakat Jawa yang memadukan spiritualitas Islam dengan tradisi leluhur. Selain tujuh hari dalam sepekan (Minggu hingga Sabtu), sistem ini mengenal 5 hari Pasaran: Kliwon, Legi, Paing, Pon, dan Wage.
Siklus 8 Tahun (Windu)
Sistem ini berputar dalam delapan tahun yang disebut Windu, masing-masing tahun (Alip hingga Jimakir) membawa karakter dan doa yang berbeda bagi umat manusia.
Asimilasi Budaya
Menggabungkan sistem Kamariah (Bulan) Islam dengan angka tahun Saka (Hindu). Inisiatif luar biasa dari Sultan Agung Mataram pada tahun 1555 Saka.
Filosofi Hidup
Menunjukkan konsep “Sangkan Paraning Dumadi”—dari mana manusia berasal dan ke mana manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.
Tabel Daftar Bulan Kalender Jawa Islam
| No | Nama Bulan Jawa | Lama Hari | Makna Simbolis |
|---|---|---|---|
| 1 | Sura (Suro) | 30 | Rijal (Awal) |
| 2 | Sapar | 29 | Wiwit (Memulai) |
| 3 | Mulud (Rabingulawal) | 30 | Kanda (Mengabarkan) |
| 4 | Bakda Mulud (Rabingulakir) | 29 | Ambuka (Membuka) |
| 5 | Jumadilawal | 30 | Wiwara (Gerbang) |
| 6 | Jumadilakir | 29 | Rahsa (Rasa/Esensi) |
| 7 | Rejeb | 30 | Purwa (Asal) |
| 8 | Ruwah (Arwah/Saban) | 29 | Dumadi (Menjadi) |
| 9 | Pasa (Ramadhan) | 30 | Madya (Tengah) |
| 10 | Sawal | 29 | Wujud (Nyata) |
| 11 | Séla (Apit) | 30 | Wusana (Akhir) |
| 12 | Besar (Dulkahijjah) | 29/30 | Suwung (Kosong/Hampa) |
Penjelasan Mendalam Bulan dalam Kalender Jawa
Nama-nama bulan dalam kalender jawa sebagian besar diadaptasi dari bahasa Arab, namun diberi interpretasi lokal yang sangat kuat sesuai dengan kejadian alam dan kehidupan mistik masyarakat.
1. Sura (Suro) – 30 Hari
Bulan pertama ini berimpit dengan Muharram. Nama Sura berasal dari kata ‘Asyura’. Bulan ini dipandang sangat sakral. Masyarakat Jawa umumnya menghindari perhelatan besar seperti pernikahan di bulan Suro karena dianggap sebagai waktu untuk prihatin dan introspeksi diri (muhasabah).
2. Sapar – 29 Hari
Berimpit dengan bulan Safar. Dalam primbon, Sapar sering dikaitkan dengan kewaspadaan terhadap bala’. Terdapat tradisi “Rebo Wekasan” yang diisi dengan doa bersama untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.
3. Mulud – 30 Hari
Bulan ini sangat ceria karena memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Nama Mulud diambil dari kata Maulid. Ini adalah bulan penuh berkah yang sering diisi dengan pembacaan sholawat dan kenduri besar di keraton maupun desa-desa.
4. Pasa (Poso) – 30 Hari
Bulan kesembilan ini berimpit dengan Ramadhan. Seluruh aktivitas masyarakat difokuskan pada ibadah puasa. Secara filosofis, Pasa berarti “Madya” atau fase pematangan jiwa melalui pengendalian nafsu.
Metode Perhitungan & Kurup
Perhitungan kalender jawa menggunakan siklus 8 tahun yang disebut Windu. Dalam kurun waktu 120 tahun (15 windu), terjadi penyesuaian yang disebut Kurup. Saat ini kita berada pada periode Kurup Asapon (Alip Selasa Pon). Hal ini memastikan bahwa kalender tetap akurat dengan pergerakan bulan yang sebenarnya.
Weton Pernikahan
Penting bagi calon pengantin untuk menghitung weton guna mencari kecocokan. Cek Weton Pernikahan Anda di Sini!

