Hari Isra Mi’raj

Perjalanan Agung Rasulullah SAW Menjemput Perintah Sholat 5 Waktu

Seringkali masyarakat menggabungkan Isra Mi’raj menjadi satu peristiwa yang sama tanpa memahami perbedaan esensial di antaranya. Padahal, sebenarnya Isra Mi’raj merupakan dua rentetan peristiwa luar biasa yang berbeda namun terjadi dalam satu malam yang sama. Kejadian ini adalah salah satu mukjizat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di periode Mekkah, tepatnya sebelum beliau melakukan Hijrah ke Madinah.

Al-Isra (الإسراء)

Perjalanan horizontal Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha (Yerusalem) menggunakan kendaraan kilat bernama Buraq.

Al-Mi’raj (المعراج)

Perjalanan vertikal Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsha naik menembus lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT.

Tujuan Utama

Menerima perintah ibadah sholat lima waktu secara langsung tanpa perantara Malaikat Jibril, menandakan kedudukan istimewa ibadah ini.

Makna Spiritual dan Landasan Al-Qur’an

Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ujian keimanan bagi para pengikut Nabi pada masa itu. Beberapa penggambaran tentang kejadian ini dapat dilihat di surah ke-17 di Al-Quran, yaitu Surah Al-Isra.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra: 1)

Miraj by Sultan Muhammad

Miniatur Iran abad ke-16 karya Sultan Mohammad yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW mengendarai Buraq didampingi Malaikat Jibril.

Kenaikan Muhammad SAW (Ascension of Mohammed) adalah bukti kekuasaan Allah yang melampaui batas logika manusia. Dalam literatur Islam, peristiwa ini diwariskan dalam tiga varian atau tahap yang saling melengkapi: perjalanan malam (Isra), kenaikan melalui tangga surga (Mi’raj), dan kombinasi keduanya yang menjadi keyakinan mayoritas ulama saat ini (Ahlussunnah wal Jamaah).

Perjalanan Menembus 7 Lapis Langit

Dalam pengalaman Mi’raj, Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril naik meninggalkan bumi. Di setiap lapisan langit, beliau bertemu dengan para Nabi terdahulu, yang menunjukkan kesinambungan risalah tauhid dari masa ke masa:

Langit Ke-Nabi yang Ditemui
1 (Pertama)Nabi Adam AS (Bapak Manusia)
2 (Kedua)Nabi Yahya AS dan Nabi ‘Isa AS
3 (Ketiga)Nabi Yusuf AS
4 (Keempat)Nabi Idris AS
5 (Kelima)Nabi Harun AS
6 (Keenam)Nabi Musa AS
7 (Ketujuh)Nabi Ibrahim AS

Puncak dari perjalanan ini adalah Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang tidak bisa dilalui bahkan oleh Malaikat Jibril sekalipun. Di sanalah Muhammad akhirnya diterima di hadirat ilahi tertinggi, pada jarak “dua lengkungan dan kurang sedikit” (fa-kana qaba qawsayni aw adna). Peristiwa ini menggambarkan kedekatan luar biasa antara Khalik dan Makhluk, sebuah pencapaian mistik yang kemudian banyak dibahas oleh para Sufi (tashawwuf) sebagai puncak pencarian ruhani.

Sejarah Perintah Sholat 5 Waktu

Momen paling krusial dalam Isra Mi’raj adalah ketika Rasulullah menerima perintah sholat. Awalnya, Allah SWT memerintahkan sholat sebanyak 50 waktu sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa AS yang ditemui Rasulullah saat turun, beliau berkali-kali kembali menghadap Allah untuk memohon keringanan.

Saran Nabi Musa ini didasari kekhawatiran bahwa umat Muhammad tidak akan sanggup menanggung beban 50 waktu sholat. Melalui kasih sayang Allah, jumlah tersebut akhirnya dikurangi hingga menjadi 5 waktu sehari semalam, namun dengan nilai pahala yang tetap setara dengan 50 waktu bagi mereka yang menjalankannya secara istiqomah.

Pelajari lebih lanjut tentang tata cara ibadah yang benar di: Cleverly Smart Spiritual.


Mohammed on Heaven

Penggambaran Kenaikan Muhammad dari Museum Istana Topkapi, Istanbul. Possibly Sultan Muhammad, Public domain, via Wikimedia Commons

Tradisi Peringatan Isra Mi’raj di Indonesia

Peristiwa hari Isra Mi’raj telah menjadi hari libur nasional di Indonesia. Hal ini mencerminkan betapa besarnya pengaruh budaya Islam dalam kehidupan berbangsa. Masyarakat Indonesia merayakan momen ini dengan berbagai ekspresi kultural dan religius:

  • Pengajian Umum: Digelar dari pelosok kampung hingga masjid-masjid agung di pusat kota.
  • Perlombaan Islami: Lomba adzan, MTQ, hingga penampilan nasyid dan seni rebana.
  • Bazar Busana Muslim: Memperkuat ekonomi umat sekaligus mempromosikan tren busana yang syar’i.
  • Peringatan Kenegaraan: Acara resmi yang digelar di Istana Negara sebagai bentuk penghormatan terhadap hari besar keagamaan.

Selain meriah, peringatan ini bertujuan agar umat Islam senantiasa mengingat pentingnya sholat sebagai tiang agama (imaduddin). Sholat adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya diturunkan langsung di Sidratul Muntaha, tanpa perantara wahyu melalui Malaikat.

Konten ini dioptimalkan untuk Edukasi dan Literasi Islam.

One thought on “Hari Isra Mi’raj”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *